LANDASAN TEORIDAN PENGAJUAN HIPOTESIS

  1. DESKRIPSI TEORI

    Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variable yang diteliti. Berapa jumlah kelompok teori yang perlu dikemukakan/dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variable yang diteliti.

    Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah. Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indicator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak.

    Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk (sumadi suryabrata, 1996). Sumber-sumber bacaan dapat berbentuk buku-buku teks, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah dan hasil-hasil penelitian. Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga criteria, yaitu relevansi, kelengkapan, dan kemutakhiran (kecuali penelitian sejarah, penelitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama). Relevansi berkenaan dengan kecocokan antara variable yang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenaan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenaan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir teori.

    Hasil penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan dengan apa yang akan diteliti dapat dilihat dari: permasalahan yang diteliti, waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian, analisis, dan kesimpulan.

  1. LANGKAH-LANGKAH MENDESKRIPSIKAN TEORI

    Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan nama variable yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
  2. Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti.
  4. Cari definisi setiap variable yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topic buku yang sesuai dengan variable yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalam bentuk tulisan dengan bahasa sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.


 

  1. KERANGKA BERFIKIR

    Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

    Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variable yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryolo, 1999). Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (Suriasumantri, 1986).

  1. LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN KERANGKA BERFIKIR

    Proses kerangka berfikir untuk merumuskan hipotesis memerlukan 6 (enam) langkah (Sugiyono, 2000) sebagai berikut:

  1. Menetapkan variabel yang diteliti
  2. Membaca buku dan hasil penelitian
  3. Mendiskripsikan teori dan hasil penelitian
  4. Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
  5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
  6. Sintesa atau kesimpulan

Sekaran (1996) menyebutkan, suatu kerangka berfikir yang baik memuat hal-hal:

  1. Variabel-variabel yang diteliti harus dijelaskan.
  2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan atau hubungan antar variabel yang diteliti dan atau teori yang mendasari.
  3. Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausal atau timbal balik.
  4. Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berfikir yang dikemukakan dalam penelitian.
  1. PENGERTIAN DAN BENTUK-BENTUK HIPOTESIS

Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga dalam penelitian. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat pertanyaan. Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada kualitatif tidak merumuskan hipotesis tetapi justru menemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis, tersebut akan diuji oleh peneliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

Dalam hal ini perlu di bedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengertian hipotesis penelitian seperti telah dikemukakan diatas. Selanjutnya, hipotesis statistik itu ada, bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel maka tidak ada hipotesis statistik.

Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja adalah kalimat positif dan hipotesis nol adalah kalimat negatif. Dalam statistik juga terdapat dua macam hipotesis yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternatif .dalam kegiatan penelitian, yang diuji terlebih dahulu adalah hipotesis penelitian terutama pada hipotesis kerjanya. Bila penelitian akan membuktikan hasil pengujian hipotesis itu signifikan atau tidak, maka diperlukan hipotesis statistik. Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis statistik ini adalah statistik inferensial. Statistik yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.

Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol, karena penelitian tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistik dan parameter. Parameter adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan populasi, dan statistik disini ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.

Bentuk-bentuk Hipotesis

    Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu : rumusan masalah deskriptif, komnparatif, dan asosiatif. Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiasi/ hubungan.

  1. Hipotesis Deskriptif

    Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

  2. Hipotesis Komparatif

    Merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

  3. Hipotesis Asosiatif

    Hipotesis asosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

  1. MERUMUSKAN HIPOTESIS

Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah, dan HipĆ³tesis    

    Pada paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis.

    Pada setiap paradigma penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian, yaitu masalah deskriptif. Berikut ini contoh judul penelitian, paradigma, rumusan masalah dan hipotesis penelitian.

Judul Penelitian

    Hubungan antara gaya kepemimpinan manager perusahaan dengan prestasi kerja karyawan.

Gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan prestasi keja adalah variabel dependen (Y).


 

Paradigma Penelitian


 


 


 


 

Rumusan Masalah

  1. Seberapa baik gaya kepemimpinan manajer yang ditampilkan? (bagaimana X?)
  2. Seberapa baik prestasi kerja karyawan ? (adakah hubungan antara X dan Y?). a dan b adalah masalah deskriptif
  3. Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manajer dan prestasi kerja karyawan? (adakah hubungan antara X dan Y?). Butir ini merupakan masalah asosiatif.
  4. bila sampel penelitiannya golongan I,II dan III, maka rumusan masalah komparatifnya adalah :
    1. Adakah perbedaan persepsi antara karyawan Golongan I,II, dan III tentang gaya kepemimpinan manajer?
    2. Adakah perbedaan persepsi antara pegawai golongan I, II, dan III tentang prestasi kerja karyawan?

Rumusan hipotesis penelitian

  1. Gaya kepemimpinan yang ditampilkan manajer (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainya paling tinggi 60 % dari kriteria yang diharapkan.
  2. Prestasi kerja karyawan (Y) kurang memuaskan, dan nilainya paling tinggi 65%.
  3. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan. manajer dengan prestasi kerja karyawan, artinya makin baik kepemimpinan manajer, maka akan semakin baik prestasi kerja karyawan.
  4. Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara gol. I, II dan III.
  5. Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara gol. I,II dan III.

    Untuk bisa diuji dengan statistik, maka data yang akan didapatkan harus diangkakan. Untuk bisa diangkakan, maka diperlukan instrumen yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul di atas ada dua instrumen, yaitu instrumen gaya kepemimpinan dan prestasi kerja pegawai.

    Untuk judul penelitian yang berisi dua independen variabel atau lebih, rumusan masalah penelitiannya akan lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya dan di bagian analisis data.

Karakteristik Hipotesis yang Baik

  1. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel atau lebih. Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan.
  2. Dinayatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
  3. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah


 

Leave a Reply

Artikel Terbaru